Sjafruddin Prawiranegara dan Mr. Assaat: Pemimpin yang Tak Banyak Disebut Buku Pelajaran
Yahukimo - Dalam sejarah perjuangan Indonesia, nama-nama besar seperti Soekarno dan Hatta sering mendominasi halaman buku pelajaran. Namun, di balik perjuangan mempertahankan kemerdekaan, ada tokoh-tokoh penting yang kiprahnya tak kalah besar namun jarang dibahas secara mendalam. Dua di antaranya adalah Sjafruddin Prawiranegara dan Mr. Assaat, sosok yang mengambil peran krusial saat Republik berada di ujung tanduk. Kami akan mengulas jejak pengabdian mereka yang patut mendapat tempat terhormat dalam sejarah bangsa.
Siapa Sjafruddin Prawiranegara?
Sjafruddin Prawiranegara adalah orang Indonesia pertama dan satu-satunya yang menjadi Presiden De Javasche Bank (DJB) di masa-masa akhir tahun (1951-1953). Ia pula yang sekaligus menduduki jabatan Gubernur Bank Indonesia (BI) pertama tahun (1953-1958), sebagai hasil dari nasionalisasi DJB. Sebelumnya, posisi orang nomor satu di De Javasche Bank tahun (1828-1951) selalu dijabat oleh orang berkebangsaan Belanda.
Salah satu yang menonjol di masa kepemimpinan Sjafruddin Prawiranegara adalah keteguhannya dalam menjalankan fungsi utama bank sentral sebagai penjaga stabilitas nilai rupiah serta pengelolaan moneter. Sjafruddin juga orang yang pertama kali menyampaikan usulan agar pemerintah RI segera menerbitkan mata uang sendiri sebagai atribut kemerdekaan Indonesia untuk mengganti beberapa mata uang asing yang masih beredar.
Pembentukan Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI)
Pembentukan Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) terjadi pada 22 Desember 1948 sebagai respons terhadap Agresi Militer Belanda II, di mana Belanda menangkap presiden dan wakil presiden. PDRI didirikan dengan Sjafruddin Prawiranegara sebagai ketuanya, yang diberi mandat oleh Soekarno dan Hatta untuk menjalankan pemerintahan sementara di Bukittinggi, Sumatera Barat, guna melanjutkan perjuangan kemerdekaan Indonesia dan menjaga agar negara tetap memiliki pemerintahan yang sah.
Proses pembentukan
- Mandat dari Pimpinan RI:
Sebelum ditangkap, Soekarno dan Hatta memberikan mandat lisan kepada Syafruddin Prawiranegara, yang saat itu menjabat sebagai Menteri Kemakmuran, untuk membentuk pemerintahan darurat di Bukittinggi.
- Pendirian di Bukittinggi:
Rapat-rapat persiapan dimulai pada 19 Desember 1948 di Bukittinggi, yang kemudian pada 22 Desember 1948, PDRI resmi dibentuk dengan susunan kabinetnya yang disebut "Kabinet Perang".
- Pusat Pemerintahan:
Bukittinggi dipilih sebagai pusat pemerintahan karena dinilai lebih aman dari pendudukan Belanda dan memiliki akses yang lebih baik.
Peran Mr. Assaat dalam Masa Transisi Republik
Saat itu, Soekarno ditetapkan sebagai Presiden RIS, sedangkan Hatta menjadi Perdana Menteri RIS. Sementara itu, kedudukan Presiden RI diisi oleh Mr Assaat yang menjabat selama sekitar sembilan bulan. Hanya beberapa bulan setelah Konfrensi Meja Bundar, tepatnya pada 15 Agustus 1950, RIS melebur menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Dengan meleburnya RIS, usai pula peran Assaat sebagai pemangku sementara jabatan Presiden RI. Meskipun begitu, peran Assaat sebagai pemangku sementara jabatan Presiden RI sangatlah penting dalam menjaga kedaulatan negara Indonesia kala itu, sebab jika tidak ada pimpinan pemerintahan RI kala itu, aka nada kekosongan dalam sejarah Indonesia. Artinya, tanpa pemerintahan Assaat bisa jadi Sejarah RI terputus atau sempat menghilang sebelum akhirnya muncul kembali saat RIS melebur menjadi NKRI.
Mengapa Peran Sjafruddin Prawiranegara dan Assaat Kurang Tercatat dalam Sejarah?
Beberapa faktor menjadi alasan mengapa nama Sjafruddin dan Mr. Assaat kurang tercatat dalam sejarah:
- Fokus narasi pada tokoh proklamator
Buku pelajaran sering menekankan peran Sukarno-Hatta sebagai pusat sejarah kemerdekaan.
- Narasi sejarah yang lebih politis pada masa-masa tertentu
Beberapa kebijakan pemerintah di masa lalu membuat sebagian tokoh kurang disorot karena faktor perbedaan pandangan politik.
- Kepemimpinan mereka terjadi pada momen transisi
Periode darurat atau masa transisi sering kali dilewati secara singkat dalam narasi mainstream.
Namun, kontribusi mereka tetap tidak terbantahkan: tanpa keberanian Sjafruddin, republik bisa kehilangan legitimasi; tanpa peran Mr. Assaat, transisi menuju NKRI mungkin tidak semulus yang terjadi.
Warisan Pemikiran dan Teladan Kepemimpinan
Sjafruddin Prawiranegara
- Ketegasan dan keberaniannya menjadi teladan pemimpin yang siap mengambil risiko besar demi negara.
- Konsistensi moralnya dalam kebijakan ekonomi menegaskan bahwa integritas adalah fondasi kepemimpinan.
Mr. Assaat
- Pemikiran ekonominya meninggalkan warisan penting tentang perlunya keberpihakan pada rakyat kecil.
- Kepemimpinan singkatnya menunjukkan bahwa peran besar tidak selalu membutuhkan masa jabatan panjang.
Sejarah adalah rangkaian cerita tentang banyak tokoh, bukan hanya yang paling sering disebut. Sjafruddin Prawiranegara dan Mr. Assaat adalah dua pemimpin yang menorehkan kontribusi monumental bagi Republik Indonesia, meskipun tidak selalu mendapatkan sorotan layak dalam buku pelajaran.
Dengan menelusuri kembali peran mereka, kita tidak hanya memperkaya pemahaman sejarah, tetapi juga meneladani nilai-nilai kepemimpinan yang mereka wariskan: keberanian, integritas, dan dedikasi total pada negara.
Referensi:
https://id.wikipedia.org/wiki/Syafruddin_Prawiranegara
https://www.daerahkita.com/artikel/288/syafruddin-prawiranegara-pemimpin-pemerintahan-darurat-ri-masa-agresi-belanda-ii
Adam, A. W. (2009). Membongkar Manipulasi Sejarah: Kontroversi Pelaku dan Peristiwa. Indonesia: Penerbit Buku Kompas.