Matoa: Dari Hutan Papua yang Semakin Mendunia
Yahukimo - Buah matoa, yang sejak lama tumbuh liar di hutan-hutan Papua kini semakin populer dan diminati masyarakat di berbagai daerah di Indonesia. Dengan cita rasa manis yang khas dan tekstur yang unik, matoa perlahan naik kelas menjadi salah satu buah eksotis Nusantara yang banyak diburu konsumen.
Matoa atau dengan nama ilmiah nya yaitu Pometia Pinnata dikenal sebagai tanaman hutan tropis yang mampu tumbuh tinggi hingga 20–30 meter. Tanaman yang tersebar secara luas di Asia Tenggara, Asia Selatan dan Melanesia. Iklim yang dibutuhkan untuk pertumbuhan yang baik adalah iklim dengan curah hujan yang tinggi . Pohon tergolong besar dengan tinggi rata – rata 18 meter dan berdiameter rata – rata maksimun 100 cm. Pohon ini tumbuh dengan baik pada daerah yang kondisi tanahnya kering (tidak tergenang) dengan lapisan tanah yang tebal. Dari ke tiga jenis matoa, hanya jenis Pometia Pinnata ini yang menghasilkan buah. Berbuah sekali dalam setahun kisaran november hingga januari. Tanaman ini mudah beradaptasi dengan kondisi panas maupun dingin serta tahan terhadap serangga yang biasa merusak buah.
Jenis Matoa
Di Papua dikenal 2 jenis matoa yang memiliki tekstur yang berbeda, dimana diantaranya adalah:
- Matoa kelapa, berdaging kenyal, diameter buah 2.2 – 2.9 cm dan diameter biji 1,25- 1,40 cm; biasanya matoa kelapa memiliki tekstur yang mudah dan lebih tahan lama untuk disimpan
- Matoa Papeda, berdaging lembek dan lengket, diameter buah 1,4 -2,0. Biasanya tekstur daging sedikit berair dan mirip seperti papeda.
Manfaat dan khasiat
Buah matoa bukan hanya sekedar tanaman melainkan buah yang memiliki khasiat yang berpengaruh penting bagi kehidupan masyarakat. Berikut beberapa manfaat dan khasiat dari matoa:
- Menurunkan tekanan darah tinggi karena kandungan zat yang bersifat diuresis (meningkatkan jumlah cairan yang dikeluarkan oleh tubuh);
- Menangkal penyakit kronis, karena mengandung zat tanin yang merupakan antioksidan;
- Meningkatkan regenerasi sel kulit yang mengurangi tanda penuaan;
- Menangkal radikal bebas, kalsium dan Kalium yang Kaya akan vitamin C;
- Menghilangkan stress karena mengandung beberapa senyawa yang bisa digunakan sebagai obat penenang alami;
- Menghilangkan jerawat karena memiliki beberapa senyawa bersifat antimikroba.
Pedagang buah di sejumlah kota besar mengungkapkan bahwa permintaan matoa meningkat pesat terutama saat musim panen tiba. Banyak konsumen membeli matoa bukan hanya untuk dimakan langsung, tetapi juga untuk dijadikan jus, dessert, hingga produk olahan rumahan.
Peluang ekonomi bagi petani lokal
Kian banyaknya daerah yang mulai mencoba membudidayakan matoa membuka peluang baru bagi petani. Harga jual yang stabil serta biaya perawatan tanaman yang relatif rendah membuat matoa menjadi alternatif komoditas yang menjanjikan.
Di beberapa daerah, komunitas petani sudah mulai membentuk kelompok usaha bersama untuk mengembangkan kebun matoa terkelola. Mereka berharap komoditas ini dapat menambah pendapatan sekaligus memperkenalkan kekayaan hayati Papua ke seluruh Nusantara.
Menjaga kelestarian, mendorong budidaya berkelanjutan
Sejalan dengan meningkatnya permintaan, para pemerhati lingkungan mengingatkan pentingnya menjaga pohon matoa tetap lestari di habitat aslinya. Penanaman kembali dan budidaya berkelanjutan dianggap penting agar populasi matoa di hutan Papua tetap terjaga.
Matoa bukan sekadar buah manis dari timur Indonesia. Ia adalah warisan alam Papua yang kini ikut mewarnai pasar buah nasional, menjadi bukti bahwa kekayaan lokal bisa berkembang menjadi komoditas bernilai tinggi tanpa kehilangan identitas budaya dan ekologisnya.