Kisah Aming Prayitno, Maestro di Balik Lambang Pengabdian ASN
Yahukimo - Tak banyak yang tahu bahwa logo Korps Pegawai Republik Indonesia (KORPRI) simbol yang melekat di dada setiap Aparatur Sipil Negara (ASN) diciptakan oleh seorang seniman besar asal Surakarta, Aming Prayitno. Sosok yang dikenal sebagai pelukis dengan gaya abstrak-lirikal ini tidak hanya menorehkan karya di kanvas, tetapi juga meninggalkan warisan visual yang menjadi identitas kebanggaan seluruh ASN di Indonesia. Melalui perjalanan hidup, karya seni, dan dedikasinya, Aming membuktikan bahwa seni rupa memiliki kekuatan besar dalam membentuk simbol, nilai, dan jati diri bangsa.
Latar Belakang Hidup dan Pendidikan Aming Prayitno
Aming Prayitno lahir di Surakarta pada 9 Juni 1943. Ia dikenal sebagai salah satu seniman dan pelukis besar asal Indonesia yang berperan penting dalam perkembangan seni rupa modern di tanah air. Setelah menamatkan pendidikan di Sekolah Tinggi Ilmu Seni Rupa Indonesia (ASRI) Yogyakarta yang kini menjadi bagian dari Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta Aming kemudian melanjutkan kariernya sebagai dosen di kampus tersebut.
Perjalanan hidupnya sangat erat dengan dunia seni rupa, terutama pada dekade 1970-an, masa di mana seni rupa Indonesia mengalami perubahan dan perkembangan yang sangat pesat. Melalui karya dan dedikasinya, Aming turut berkontribusi membentuk wajah seni rupa Indonesia yang kaya akan makna dan ekspresi.
Aming Prayitno meninggal dunia pada 24 Januari 2023 di usia 79 tahun di Rumah Sakit Umum Daerah Sleman. Jenazahnya dimakamkan di kompleks Makam Seniman Imogiri, tempat peristirahatan para tokoh seni besar Indonesia.
Karya dan Penghargaan Aming Prayitno
Sebagai pelukis, Aming dikenal dengan gaya lirikan abstrak atau lyrical abstraction. Aliran ini menekankan ekspresi perasaan, imajinasi, dan dekorasi yang berpadu harmonis dalam setiap goresan. Ia sering disejajarkan dengan para maestro seni rupa seperti Nyoman Gunarsa, Djoko Pekik, H. Widayat, Nasirun, G. Sidarta, Soewandi, Edi Sunarso, Kusnandi, dan Godod Sutejo.
Reputasinya sebagai pelukis profesional yang kuat dalam sejarah seni rupa Indonesia terlihat dari berbagai penghargaan yang diterimanya. Beberapa di antaranya adalah:
- Raden Saleh Prize (1972) untuk kategori seni lukis terbaik.
- Biennale Seni Lukis Indonesia IV (1980) di Jakarta sebagai karya seni lukis terbaik.
Melalui karya-karyanya, Aming selalu mengingatkan pentingnya hubungan manusia dengan lingkungan. Ia menggambarkan kehidupan sebagai kesatuan yang tidak terpisahkan, tercermin melalui tekstur dan warna yang ia hasilkan di atas kanvas. Lukisan-lukisannya tak sekadar indah, tetapi juga membawa pesan moral dan spiritual yang dalam.
Makna dan Proses Penciptaan Logo KORPRI
Selain dikenal lewat karya lukis, salah satu warisan terbesar Aming Prayitno bagi bangsa Indonesia adalah desain logo Korps Pegawai Republik Indonesia (KORPRI). Lomba desain logo tersebut digelar pada tahun 1973, dan karya Aming terpilih sebagai pemenang serta ditetapkan menjadi logo resmi KORPRI yang masih digunakan hingga hari ini.

Logo KORPRI memiliki tiga unsur utama, yakni pohon, bangunan berbentuk Balairung, dan sayap. Masing-masing unsur memiliki makna filosofis mendalam:
- Pohon dengan 17 ranting, 8 cabang, dan 45 daun melambangkan tanggal kemerdekaan Republik Indonesia (17 Agustus 1945). Pohon ini menggambarkan KORPRI sebagai pengayom dan pelindung bangsa.
- Bangunan Balairung dengan lima tiang menjadi simbol pemersatu seluruh anggota KORPRI, wadah kebangsaan, dan perekat persatuan bangsa untuk mendukung pemerintahan yang stabil dan demokratis berdasarkan Pancasila.
- Dua sayap di kiri dan kanan melambangkan semangat pengabdian dan perjuangan KORPRI untuk mewujudkan organisasi yang mandiri, profesional, serta berorientasi pada pelayanan publik demi tercapainya cita-cita luhur kemerdekaan Indonesia.
Melalui desain ini, Aming tidak hanya menciptakan simbol organisasi, tetapi juga membentuk identitas dan jati diri Aparatur Sipil Negara (ASN) di seluruh Indonesia.
Warisan dan Pengaruh Aming Prayitno dalam Dunia Seni Indonesia
Warisan Aming Prayitno tidak hanya melekat pada logo KORPRI, tetapi juga dalam berbagai aspek seni rupa nasional. Beberapa kontribusinya yang penting antara lain:
- Pelopor aliran abstrak-lirisisme di Indonesia – Aming menjadi bagian dari generasi pelukis yang memperkenalkan bahasa abstrak dan lirikal dalam seni Indonesia, sejajar dengan tokoh seperti Nyoman Gunarsa dan Sunaryo.
- Desain simbol institusional – Karyanya dalam menciptakan logo KORPRI membuktikan bahwa seni dapat berperan dalam memperkuat identitas lembaga negara.
- Peran sebagai pendidik – Sebagai dosen di ISI Yogyakarta, Aming dikenal mendorong mahasiswa untuk berani bereksperimen dan tidak sekadar meniru gaya lama. Pengaruhnya terasa kuat dalam pembentukan generasi seniman baru yang lebih bebas dan inovatif.
- Karya lintas ranah – Aming meninggalkan jejak di dua ranah berbeda: ranah seni (melalui lukisan dan pameran) dan ranah publik (melalui logo, batik, dan simbol ASN).
Makna Jejak Seni Aming Prayitno bagi Bangsa
Kisah Aming Prayitno dan karya logonya untuk KORPRI menunjukkan bahwa seni rupa bukan sekadar ekspresi estetika, melainkan juga sarana membangun identitas bangsa. Melalui tangan seorang seniman, sebuah gambar dapat menjadi simbol yang mempersatukan jutaan aparatur negara dalam semangat pengabdian dan profesionalisme.
Logo KORPRI bukan hanya representasi visual, tetapi juga cerminan nilai-nilai luhur seperti loyalitas, integritas, dan pengabdian kepada bangsa dan negara. Dengan demikian, karya Aming Prayitno akan terus hidup sebagai simbol kebanggaan bagi seluruh ASN di Indonesia.