KPU Kabupaten Yahukimo Padukan Tradisi Bakar Batu sebagai Simbol Sinergi Adat dan Demokrasi

Yahukimo - Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Yahukimo menghadirkan inovasi dalam kegiatan Peluncuran Tahapan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Bupati dan Wakil Bupati pada tanggal 28 Juni 2024 dengan memadukan nilai-nilai adat melalui tradisi bakar batu.
Kegiatan yang digelar di Yahukimo ini menjadi simbol perpaduan antara semangat demokrasi dan kekayaan budaya lokal Papua Pegunungan.

Makna Tradisi Bakar Batu dalam Sosialisasi Pilkada

Tradisi bakar batu merupakan salah satu ritual penting masyarakat Papua yang menggambarkan nilai kebersamaan dan gotong royong. Prosesnya dimulai dengan memanaskan batu hingga membara, lalu disusun bersama bahan makanan seperti daging, sayuran, dan ubi yang dibungkus daun.

Dalam pelaksanaannya kegiatan ini diawali dengan doa bersama, diakhiri dengan pembagian makanan kepada seluruh peserta, menciptakan suasana kehangatan dan persaudaraan di tengah masyarakat.

Pelaksanaan tradisi bakar batu dalam kegiatan Pilkada menjadi bentuk penghormatan terhadap budaya setempat. Melalui kegiatan ini, KPU Yahukimo ingin menunjukkan bahwa penyelenggaraan pemilu dapat berjalan selaras dengan adat dan tradisi masyarakat. Demokrasi bukan sekadar proses politik, tetapi juga ruang kebersamaan dan gotong royong.

Sinergi Antara Adat dan Demokrasi dalam Pilkada Yahukimo

Kegiatan bakar batu yang diadakan KPU Yahukimo tidak hanya menjadi seremonial peluncuran tahapan Pilkada, tetapi juga wadah dialog dua arah antara penyelenggara pemilu dan masyarakat.
Dalam suasana penuh keakraban, para tokoh adat, pemuda, perempuan, dan tokoh agama diberikan ruang untuk menyampaikan pandangan, harapan, serta aspirasi terhadap penyelenggaraan Pilkada 2024.

Melalui pendekatan berbasis budaya ini, KPU Yahukimo berupaya memperkuat partisipasi masyarakat serta membangun kepercayaan publik terhadap proses demokrasi yang inklusif dan berakar pada nilai-nilai lokal.

Menjaga Nilai Adat dan Integritas Demokrasi

KPU Yahukimo menegaskan bahwa penerapan pendekatan budaya dalam kegiatan kepemiluan harus tetap menjaga kemurnian nilai adat agar tidak disalahgunakan untuk kepentingan politik praktis. Adat harus menjadi sarana edukasi dan perekat masyarakat, bukan sekadar simbol dalam acara seremonial.

Tradisi bakar batu mengajarkan nilai persaudaraan, kejujuran, dan keadilan, yang sejalan dengan prinsip-prinsip demokrasi. Dari bara batu yang menyala, lahir semangat baru demokrasi yang menghargai adat, dan adat yang memperkuat demokrasi.

Bagikan:

facebook twitter whatapps

Dilihat 636 Kali.